Monday, March 31, 2014

EGYPT: LEGITIMISING DICTATORSHIP BY LEGALISING MURDER



In the Salvador Option, the dictatorial regime of El Salvador used stealth by employing death squads to execute and wipe out their political opponents, kidnapping and making suspected dissidents and their families to go missing and disappear from the political landscape.

In Algeria of the 90’s, the  ruthless regime’s brutal tactics of eradicatuer – they literally eradicated Islamist political opponents, party leadership and rank and file membership by drawing the democratically successful FIS into a bloody losing civil war, wiping whole villages and settlements of suspected FIS supporters, faking the scenes by framing militant extremists by disguising their security forces again as death squads. This included vicious and cruel torture tactics inherited from their French colonizers to terrorize Islamists into submission and put fear on the general populace not to sympathize with the FIS.

Syria’s Assad simply declared open warfare on its civilians and massively attacked large population centres which supported his political opponents without humane consideration or callously violent proportions killing hundreds of thousands including women and children.

Egypt’s coup de tat regime has sought to legitimize itself by employing dubious legal means to silence political opponents. Egypt has innovated the use of terror by using its courts to mass sentencing to death of 529 activists. Egypt has even the gall and notoriety to obtain its Grand Mufti Shawqi Allam to religiously endorse the executions by signing off on the sentences. The 529 activists including the Muslim Brotherhood’s General Guide Dr Muhammad Badie are only protestors who resisted the illegal overthrow of a democratically elected government and are activists in social and religious da’wah work. The Muslim Brotherhood has always categorically and firmly renounced any form of violence in their political struggle and they have consistently chosen democracy as the means to power. Even though this is well known and accepted, Assisi’s regime has taken the old Pharoanic line of action, that is, to get rid of the opposition totally and completely, by exterminating political Islam, by killing its leadership and members using “legal” means.

Egypt’s regime seem to have picked up the idea for death sentences of Islamists from Bangladesh’s contemptuous and shameful recent execution of Jamaat Islami’s Abd Qadir Mulla.

As it is well known in the history of liberation and human struggle in modern times, the US, the West, Russia and China seem to show tacit support for these authoritarian regimes. Similarly for the oil rich Peninsular and Gulf Arabs who seem to ignore potential loss of life of their kindred which they are influential in the process only because they prefer  the status quo, that is as long as there is no democracy, popular revolutions or other threatening scenarios of giving people their freedom or dignity to determine their future and governance, displacing their hold on power.

What is the intention of such harsh and incomprehensible sentencing? The world should not underestimate the seriousness of the threat of the sentences. Some Islamists throughout recent history will tend to conclude that the West and its allies are not only silent but are increasingly abetting in the face of Islamists being arrested , tortured en masse as well as being executed. Somehow someone intends to elevate al-Qaeda's appeal in the region. Probably the intention is to drive Islamists and political Islam into a drawn out violent struggle as in Algeria so that they easily be taken out and destroyed as “terrorists” and not engaged as rival peace loving politicians. This keeps all the Arab dictators safe and Israel secure. Hamas and Gaza would then be starved to death, to be dismissed as a terrorist haven. It sounds terrible and may seem quite incredible but regimes are indeed capable of such deeds and even Western nations with blood on their hands have done that before.

Another scenario, the United States and the EU works closely with the Emiratis, Saudis, Kuwaitis, and Bahrainis to persuade the Islamists that suppression of Islamists may stop with the “reform” of the Brotherhood. The Brotherhood can be made to be practical , to be more pragmatic, non-ideological and to focus on their social activism, welfare work, and other civil society activities without trying to overturn the Egyptian state or competing in elections on the platform of political Islam. The rebranding of the Brotherhood would show that it no longer poses a threat to the Saudis, the Gulf, Israel and Western interests in the region. It would be a “kosher” form of Islamist activism.

In the sphere and realm of ideology, Muslim scholars in the region, including Cairo's Al-Azhar University may redirect the Brotherhood's ideology to be within mainstream “moderated” Islam, rather than becoming reformist and political. Religion and  clerical authority is used as leverage to dissuade the Muslim Brotherhood from confrontation and opposing the regime’s religiously sanctioned authority, even if the regime is illegitimate.

Finally, those elements within the Muslim Brotherhood who are turned over, defected or disillusioned through suppression, fear and threats can be recruited to  attack and further break away at political Islam and its adherents.

Indeed it is again a dark chapter in the history of the Muslim Brotherhood and modern Egypt that its political idealists, intellectuals, professionals and social activists, people who are committed to reform and non-violence are being made to suffer, some have been murdered and more may even be killed en masse just to prolong a decrepit and corrupt Deep State Egyptian regime with the tacit consent of the world at large.



Sunday, March 30, 2014

DR SIDDIQ FADIL; KEJAHATAN ADALAH PENGHANCURAN DIRI

TAFSIR MAUDHUIY Siri 69 - Memahami Mesej ayat 15-21 surah Al Jathiyah




15:  Sesiapa yang mengerjakan amal salih, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan sesiapa mengerjakan kejahatan, maka itu (menimpa) ke atasnya (sendiri), kemudian kepada Rabb (Tuhan) kamu jualah kamu dikembalikan.

16:  Dan sesungguhnya telah Kami (Allah) berikan kepada Bani Israil kitab, dan hukum-hukum, dan kenabian, dan Kami (Allah) berikan kepada mereka rezeki yang baik-baik, dan Kami (Allah) lebihkan mereka atas sekalian alam.

17:  Dan Kami (Allah) berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan, maka mereka tidak berselisihan melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan, kerana kedengkian antara mereka. Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka berselisihan padanya.

18:  Kemudian Kami (Allah) jadikan engkau di atas suatu syariat (peraturan) tentang urusan itu. Maka ikutilah ia dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu orang yang tidak mengetahui. 

19:  Sesungguhnya mereka tidak dapat melepaskan engkau daripada Allah sedikit pun. Dan sesungguhnya orang yang zalim itu, sebahagian mereka menjadi penolong bagi sebahagian yang lain, dan Allah adalah al-Waliyy (Pelindung) orang yang bertakwa.

20:  Ini adalah pedoman bagi manusia, dan petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. 

21:  Atau adakah menyangka orang yang membuat kejahatan itu bahawa Kami (Allah) akan menjadikan mereka seperti orang yang beriman dan beramal salih, iaitu sama kehidupan mereka dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka putuskan itu.  


Huraian Maksud Ayat

Para pelaku dan pejuang kebaikan bila-bila dan di mana-mana pun selalu dihadang pelbagai rupa kejahatan - kezaliman, penindasan, pengkhianatan, fitnah, sabotaj dan sebagainya.  

Ayat 15 surah al-Jathiyah di atas mengungkapkan ketetapan Ilahi bahawa segala amal  perjuangan penegak kebenaran dan kebaikan akan membuahkan hasil kejayaan yang menguntungkan mereka sendiri. Memang tidak amal kebaikan yang sia-sia. Sebaliknya, segala kejahatan dan kezaliman, kesombongan dan kecurangan para penentang kebenaran dan kebaikan adalah self-destruction - pemusnah diri, ketololan yang akan memakan diri.

Ayat ini seharusnya memberikan keyakinan dan keberanian menghadapi kejahatan lawan yang bagaimana pun  bentuknya, Tuhan telah tetapkan kesudahannya, iaitu kehancuran diri mereka sendiri. Kesudahan konflik antara kuasa kebaikan dengan kuasa kejahatan ini menurut Yusuf `Ali dapat disaksikan “even in this world”, di samping kesudahan muktamadnya dalam  penghakiman Ilahi nanti. Al-Qur’an mengajak khalayaknya belajar dari sejarah, kerana esensi sejarah adalah `ibrah atau iktibar yang sentiasa relevan sepanjang zaman.

Ayat 16 mengungkapkan nasib Bani Israil yang tersingkir dari kepimpinan umat sejagat, walhal sebelumnya mereka telah diangkat mengatasi martabat segala umat zaman itu, dianugerahi pelbagai nikmat - pengutusan rasul,  penurunan kitab, pengurniaan kekuasaan, pelimpahan rezeki dan sebagainya. Merekalah  pembawa obor ajaran samawi di tengah jagat raya ini. Tetapi martabat kepimpinan Bani Israil itu runtuh akibat silang-sengketa perpecahan yang berpunca dari kedengkian, kebencian dan  permusuhan ( baghyan baynahum).

Ayat 17 menegaskan bahawa ajaran yang Tuhan turunkan kepada mereka sebenarnya sangat jelas sehingga tidak ada sebab untuk mereka berselisih dan  bertikai. Tetapi kenyataannya mereka telah bersengketa sedemikian dahsyat. Puncanya bukan ketidakjelasan ajaran agama, tetapi baghyan baynahum (dengki sesama sendiri) yang  berhujung dengan pelbagai kejahatan dan kezaliman. Ertinya, mereka mempertikaikan suatu yang mereka tahu kebenarannya, mereka menolak fakta dan bukti nyata. Bani Israil telah rosak parah dan tidak dapat diperbaiki, lalu Allah bangkitkan umat lain dan rasul lain, iaitu umat Islam di bawah pimpinan Nabi `Arabiy, Muhammad s.`a.w. Kepada Nabi Muhammad s.`a.w. dan umat pengikutnya Allah s.w.t. berpesan agar mengambil iktibar dari perilaku baghyan baynahum Bani Israil, perilaku buruk membuat pendirian bukan  berdasarkan fakta kebenaran, tetapi berasaskan kedengkian, kebencian dan permusuhan.

Ayat 18 mengingatkan al-Rasul s.`a.w. agar berpegang teguh dengan syari`at Ilahi, dan jangan sekali-kali terpengaruh dengan desakan atau rayuan nafsu serakah orang-orang jahil. Ayat ini mengisyaratkan bahawa di hadapan kita hanya ada dua jalan: pertama jalan kebenaran syari`at Ilahi, dan kedua jalan nafsu dan kejahilan. Selain yang dibawa oleh syari`at, atau yang  bertentangan dengan syari`at adalah nafsu dan kejahilan. Tidak ada jalan tengah antara keduanya. Kerana itu ayat ini menuntut sikap istiqamah bersama syari`at - berfikir,  bersikap dan bertindak berasaskan syari`at. Justeru, syari`at adalah satu-satunya jalan selamat. Misi besar umat Muhammad s.`a.w. ialah pendaulatan syari`at di tengah dunia yang kini diperintah oleh nafsu dan kejahilan.

Ayat 19 menjelaskan hakikat kesia-siaan melayani kemahuan orang-orang zalim yang  bersikap dan bertindak atas dasar nafsu dan kejahilan. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang sangat lemah, mereka tidak akan mampu melindungi dan membela kita dari azab Tuhan andainya kita mengikuti kehendak mereka dengan mengenepikan ajaran syari’at. Memang orang-orang zalim itu selalu bersatu atas dasar nafsu dan kejahilan. Tetapi sekuat manalah  persatuan yang dibina di atas asas nafsu dan kepentingan duniawi. Mereka juga saling melindungi, saling membela, saling membantu dan bekerjasama sesama mereka. Tetapi apalah erti perlindungan dan pembelaan sesama orang zalim berbanding dengan perlindungan dan  pembelaan Allah terhadap orang-orang yang bertaqwa. Dengan taqwa kita mendapat  perlindungan dan pertolongan Tuhan Yang Maha Perkasa, dan kerana itu pula tidak perlu gentar dengan pakatan kuasa-kuasa zalim. Sekuat mana pun mereka pada pandangan mata, hakikatnya mereka sangat lemah dan rapuh berhadapan dengan kekuasaan Allah. Apabila orang-orang bertaqwa sudah berada dalam perlindungan Allah, maka tidak ada kekuatan apa  pun dan siapa pun yang dapat menggugat.

Ayat 20 menegaskan tentang keunggulan al-Qur’an (syari`at) sebagai sumber petunjuk dan rahmat bagi mereka yang memiliki keyakinan terhadapnya. Ternyata tidak semua orang mendapat barakah, rahmat dan manfaat dari syari`at. Apabila al-Qur’an menyebut liqawmin  yuqinun  bererti bahawa syari`at hanya akan melimpahkan manfaat rahmah dan barakahnya setelah syarat keyakinan itu dipenuhi. Mereka yang ragu, skeptis dan sinis terhadap syari`at tidak akan mendapat apa-apa. Para pelaku kejahatan berfikir bahawa antara mereka dengan orang-orang salih tidak ada beza, ketika hidup atau sesudah mati. Yang jahat dan yang baik sama-sama mendapat kurnia. Malah ada yang berfikir, jika di dunia mereka lebih kaya dan lebih kuat berbanding orang-orang yang berpegang pada syari`at, maka di akhirat nanti pun keadaan mereka akan lebih  baik. Mungkin ayat ini juga merujuk mereka yang berada di pihak kuasa jahat dan zalim, tetapi masih berasa berbuat baik.

Ayat 21 dengan tegas menolak anggapan sedemikian. Orang  jahat tidak mungkin sama dengan orang baik dari segi kebahagiaan dan habuan duniawi-ukhrawi. Orang salih hidupnya penuh erti, setiap saat dilimpahi rahmat, matinya nanti bererti memasuki hidup baru yang lebih bahagia dan abadi. Sementara orang jahat yang tidak  beriman hidupnya kosong, tanpa erti, setiap saat ditimpa laknat, dan matinya nanti bererti memasuki hidup baru yang penuh derita, terseksa selama-lamanya. Segala yang difikirkan oleh para pelaku kejahatan itu hanya mimpi, sedang hakikatnya perkiraan mereka semuanya salah dan bodoh.


Dr Siddiq Fadil (Presiden WADAH Pencerdasan Umat)
TM69 29032014




Tuesday, March 11, 2014

DR SIDDIQ FADIL: DEMOKRASI YANG ISLAMIK DAN KOTAK SUARA


ESENSI DEMOKRASI

Dalam konteks Malaysia, kita tidak pernah menghadapi dilema tentang demokrasi. Sejak 1955, rakyat Malaysia sudah keluar mengundi tanpa merasa apa-apa dilema tentang sistem ini. Apa pilihan lain yang ada selain demokrasi? Umat Islam semakin mantap memahami bahawa tidak ada masalah untuk menerima demokrasi.

Dengan memahami jawharu dimukratiyya, the essence of democracy, esensi demokrasi adalah ketetapan suara rakyat – al sha’b masdarul sultah – rakyat sebagai sumber kekuasaan. Memang yang mengangkat pemimpin itu adalah rakyat. Kerelaan dan keridhaan rakyat adalah asasi dalam pemikiran politik Islam. Apatah lagi menyedari pemikiran politik Islam tidak beku, bentuk pemerintahan tidak beku, sementara demokrasi itu sendiri tidak punya definisi yang baku. Bentuk demokrasi boleh berbeda-beda,  bermacam-macam.  Pemikiran Islam boleh berkembang. Dinamika politik Islam dengan dinamika demokrasi boleh bertemu pada satu titik demokrasi yang Islamik.

Kita dapat kekuatan daripada Profesor Yusuf al Qaradawi yang mengendorse – memperakukan demokrasi sebagai kuasa rakyat untuk memilih pemimpin yang mereka mahu, memilih dan membentuk corak pemerintahan yang mereka sukai. Qaradawi menjustifikasikannya dengan contoh sebuah hadith tentang tiga jenis manusia yang tidak diangkat solatnya. Pertama adalah imam yang memimpin solat dalam keadaan para jemaah tidak menyukainya – tidak diangkat solatnya walau seinci pun dari kepala mereka.

Pemimpin yang tidak disukai oleh rakyat harus berhenti saja.


KEBEBASAN DAN MEDIA

Demokrasi tidak akan ada ertinya tanpa kebebasan sepenuhnya untuk memilih. Tidak kurang pentingnya adalah media. Media yang tidak bebas tidak membolehkan rakyat mengetahui realiti hakikat semasa dan maklumat yang sebenarnya. Ini malangnya berlaku kerana mainan media. Banyak negara mengamalkan demokrasi tetapi tanpa kebebasan media. Sepatutnya ada freedom of the press tetapi yang sering berlaku adalah freedom from the press. Pemerintah bebas daripada dikritik akhbar kerana akhbar yang mengkritik pemerintah akan pendek umurnya. Sebagai image maker media selalu mempamerkan citra palsu hingga yang ditampak bukan citra hakiki sebuah parti dan bukan wajah asli seseorang calon. Pemalsuan citra yang begitu berleluasa pasti akan mencederai demokrasi. Pemalsuan media akan menafikan hak rakyat untuk mendapat maklumat yang benar. Bagaimana mungkin demokrasi yang Islamik diharapkan tanpa maklumat benar dan lengkap tentang calon yang bertanding? Bagaimana mungkin rakyat hendak membuat pilihan yang tepat dengan penipuan kosmetik propaganda media?


PILIHANRAYA ADALAH KESAKSIAN

Sedangkan mengundi itu adalah kesaksian. Daripada perspektif Islam ia bukan hanya hak tetapi kewajipan syara’ kerana ini adalah satu kesaksian. Begitulah menurut Profesor al Qaradawi. Bagaimana hendak membuat kesaksian setelah dibingungkan dan disesatkan oleh media? Saksi mesti adil. Bagaimana hendak adil dan benar kalau tidak mengenali calon dan parti dengan tepat? Ketentuan syara’ adalah tidak boleh tidak mesti pergi mengundi.  “Dan janganlah saksi-saksi itu enggan apabila mereka dipanggil menjadi saksi….” – al Baqarah 282Begitulah pilihanraya sebagai fungsi kesaksian.
Untuk membolehkan rakyat memilih apa yang mereka sukai, mereka perlu mendapat fakta cukup dan benar.


JAWATAN DAN KELAYAKAN

Nabi Yusuf a.s. ketika menawarkan dirinya menjadi menteri khazanah bumi – khaza’inil ard. Nabi Yusuf a.s. meminta jawatan kerana dia memiliki integriti dan kepakaran. Dia memperkenalkan dirinya dengan kredentialnya inni hafizun ‘alim – “aku mampu menjaga harta negara dan perbendarahaan”. Menteri yang hafiz – berintegriti bermakna mampu menjamin tiada kehilangan dan ketirisan negara. Ayat 55 Surah Yusuf: “Jadikanlah aku pengurus perbendaharaan hasil bumi (Mesir); sesungguhnya aku sedia menjaganya dengan sebaik-baiknya, lagi mengetahui cara mentadbirkannya.”

Signifikan ayat ini adalah:-

1. tidak menjadi kesalahan untuk menawarkan diri memegang sesuatu jawatan
Ulama mengatakan adalah harus untuk menawarkan diri sekiranya orang yang menawarkan itu mampu menegakkan keadilan.

2. boleh menyebutkan kekuatan kualiti yang ada pada dirinya dengan syarat benar – bil haq – dan bukan berlebih-lebihan.

Pada konteks pilihanraya ataupun di luar pilihanraya, syaratnya adalah mesti benar, fakta yang betul.


KEDUDUKAN PEMBANGKANG

Di dalam sistem demokrasi wujud pemerintah dan pembangkang. Ini menimbulkan persoalan setengah pihak samada ada pembangkang di dalam sistem Islam. Lalu ada yang gopoh dan terburu-buru terutama kebelakangan ini untuk menyimpulkan bahawa pembangkang itu bughah - pemberontak.

Padahal dalam Islam ada haq al mu’aradah – hak untuk membangkang, hak untuk tidak bersetuju. Bukan membangkang semata-mata untuk membangkang. Not to oppose for the sake of opposing. Membangkang dalam konteks amar ma’ruf nahy mungkar – menganjur kebaikan dan mencegah kemungkaran, al musyarakah al siyasiyahpolitical participation. Al mu’aradah dalam konteks ingkarul mungkar.  Memang ada tempat bagi bangkangan termasuk hak untuk berdemonstrasi dalam konteks amar ma’ruf nahy mungkar.

Perihal yang diperselisihkan adalah samada aksi demonstrasi itu mengancam keselamatan dan ketenteraman. Tetapi kalau demonstrasi itu aman, duduk-duduk membuat bantahan, apa bahayanya? Apa alasan syara’ untuk mengharamkannya kalau ia berlaku dengan aman?

Apa erti semangat bersendirian kalau tidak disuarakan? Amar ma’ruf hendaklah dilakukan dengan jelas supaya didengari oleh semua,  ingkarul mungkar bi sawt al masmu’ – menolak kemungkaran dengan suara yang jelas kedengaran. Tiada alasan untuk menolak demonstrasi kalau begini.


BERCAKAP BENAR DI HADAPAN PENGUASA

Ulama silam telah lama melaksanakan amar ma’ruf nahy mungkar dengan bermacam kaedah dan cara. Adakalanya lembut dan adakalanya keras sesuai dengan konteks dan tempat masing-masing.

i. Itulah sebabnya apabila Imam al Ghazali apabila berhadapan dengan pemimpin yang mudah mendengar – a listening leader, menteri Fakhruddin Mulk, mendekatinya dengan baik, menganjurkan kepadanya supaya bersolat malam.

Kepada menteri yang mahu bersolat ini, Imam al Ghazali menasihatinya supaya bersolat dua raka’at pada malam dengan membaca doa ini ketika bersujud,
“Ya Tuhan, Raja yang tidak akan hilang KerajaanNya, kasihanilah raja ini yang segera akan kehilangan kerajaannya, sedarkan dia daripada kelalaian, berilah petunjuk kepadanya untuk memperbaiki rakyat…..”

ii. Tetapi kepada Sultan Saljuk, Sanjar Ibn Malik Shah, Imam al Ghazali berkata keras,
“Malang sekali tengkok kuda kamu hampir patah kerana dibebani kalung-kalung kamu yang mahal dan berat, sedangkan tengkok rakyat kamu hampir patah disebabkan menanggung bermacam-macam cukai yang kamu kenakan kepada mereka…”


TAHALLUF SIYASI – PAKATAN POLITIK

Pada konteks pemikiran politik Islam tahalluf siyasi tidak menjadi isu atau masalah. Asas-asas telah lama disiapkan oleh para fuqaha’. Dalam kitab al Mughni Muhtaj karya Asy Syarbini syarah Imam al Shafie, telah digariskan panduan berhubung dengannya. Menurut syarah Imam al Shafie, jika orang bukan Islam mempunyai fikiran yang baik dan amanah, mempunyai idea dan boleh dipercayai, dan dapat memberi pertolongan, bekerjasama, maka diperbolehkan. Ini menunjukkan pada kitab-kitab turath yang dikaji dan dibaca ulama’ tradisional sudah ada banyak rujukan, sudah ada pemikiran tentangnya dan tahalluf bukan lagi menjadi isu.

Selain itu adalah seerah Rasulullah s.a.w. dan pengalaman baginda sendiri di dalam hilful fudul – suatu pakatan sebelum kedatangan kerasulan. Rasulullah s.a.w. bersama-sama dalam suatu pakatan untuk menghalang kezaliman dan membela orang yang teraniaya. Apabila Nabi s.a.w. mengenangkan peristiwa itu, baginda berkata, “Andai aku dipanggil bersama dalam tahalluf seperti itu akan aku sambut…”


POLA PERTENTANGAN MAJORITI MINORITI

Mestikah harus ada dalam demokrasi Islam pertentangan  di antara majoriti dengan minoriti. Samada penguasaan majoriti ke atas minoriti ataupun kadang-kadang tekanan minoriti ke atas majoriti. Demokrasi Islam tidak beku di dalam bentuk pertentangan dan pertembungan di antara majoriti dan minoriti. Mungkin ada pilihan yang lain.

Rashid al Ghanoushi merintis al wifaq al wataniy – kesepakatan nasional - di mana tidak semestinya terperangkap di dalam tradisi konfrontasi. Barangkali eksperimen yang dilakukan oleh Muslim democrats parti En Nahdah pimpinannya dalam konteks politik Tunisia boleh dikaji.

Ghanoushi membuktikan bahawa parti Islamis tidak mahu berkuasa bersendirian – mereka mencari konsensus dengan parti-parti lain, di luar parti Islam. Bagi Ghanoushi, esensi demokrasi Islamik itu adalah “penggiliran kuasa yang aman.” Dia menerima prinsip itu dan dia telah membuktikannya. Dengan tindakan mengundur, dia berkata, “kita keluar daripada kekuasaan dan berada di dalam pemerintahan”. Tindakan ini memberikan ruang kepada kabinet baru terdiri daripada teknokrat untuk kendali pilihanraya dengan adil dan bebas daripada pengaruh parti pemerintah.

Seorang Muslim demokrat sanggup kalah andainya itulah kehendak rakyat. Dia tidak keberatan kalah kalau itu keputusan rakyat. Menyerah kuasa tidak ada masalah. Tetapi bukan kerana penipuan. Itu kita tidak dapat terima. Kita tidak terima dipaksa kalah kerana penipuan.


KEBERSIHAN MEKANISME PILIHANRAYA DAN BUDAYA POLITIK

Untuk menjayakan demokrasi elektoral memerlukan mekanisme pilihanraya bersih, cekap dan berkecuali. Mekanisme yang benar-benar mampu menggalas amanah oleh rakyat, untuk rakyat dan kepada rakyat.
Pimpinan yang naik mestilah yang terbaik. Bukan yang naik itu yang sakit dan bermasalah. Jika itu berlaku, itu mekanisme enjet-enjet semut, siapa sakit naik atas.

Dengan demikian, kemenangan yang diraih oleh calon atau oleh parti benar-benar jelmaan kemenangan rakyat. Semua pihak akan bergembira dengan keputusannya termasuk yang kalah kerana yang menang itu adalah demokrasi, yang menang itu nilai-nilai dan prinsipnya, yang menang itu rakyat.

Tetapi jika yang menang itu akibat wang, rasuah, kecurangan dan penipuan, itu amat mendukacitakan. Kita sangat prihatin dan merakamkan concern bahawa biaya pilihanraya terlalu mahal sehingga dana menjadi tumpuan pilihanraya. Pilihanraya mahal membuka ruang seluasnya untuk rasuah dan pelaburan pembiaya yang tidak sihat daripada pemilik dana, konglomerat, kapitalis, korporat dan cukong-cukong.  Apabila berlaku persekongkolan politik dan bisnes – kiamatlah moral politik. Moral politik tidak akan laku di tengah-tengah pasar jual beli undi.

Wang sudah menjadi bahasa politik bukan sekadar ekonomi lagi. Wang penentu party electability. Wang penentu pemenangnya. Wang dapat membeli segala-galanya.

Suara rakyat berlawan dengan wang, media, jentera dan segalanya. Pilihanraya menjadi kesempatan terbaik melabur dalam politik bagi mendapat peluang pulangan daripada projek dan kontrak kerajaan selepas pilihanraya.

Budaya politik rasuah ini akan akhirnya terbentuk kerajaan yang korup. Untuk melindungi kekuasaannya yang korup, institusi-institusi penegak undang-undang akan atau telahpun dilemahkan dan dilumpuhkan – kepolisan, peguam negara, badan kehakiman, badan pesuruhjaya pilihanraya, badan pencegah rasuah dan seumpamanya. Dengan demikian institusi-institusi ditransformasi daripada menjadi agen menegakkan keadilan dan ketertiban kepada agen pelindung korupsi dan penyelewengan. Berfungsi hanya untuk kelangsungan kuasa dan sistem yang korup.

Korupsi dan politik wang itu sarat seperti barah tetapi sukar untuk dibuktikan. Itulah sebabnya seorang tokoh Indonesia menyifatkan korupsi seperti “kentut” – baunya ada tetapi si pelakunya tidak mahu mengaku.


( Dr Siddiq Fadil, Presiden WADAH Pencerdasan Umat di Wacana Islam dan Demokrasi, Kajang)


Monday, March 10, 2014

KESALAHAN SEBUAH JAMAAH



Deretan episod-episod hina selama 16 tahun - tuduhan jahat, pendakwaan, hukuman, penyebaran cerita dan video aib bertubi-tubi, siaran akhbar dan TV,  dan serangan peribadi bertalu-talu bukanlah bertujuan baik  ataupun jauh sekali mulia tetapi untuk semata-mata mengisytiharkan bahawa Anwar Ibrahim tidak layak menjadi pemimpin, menanam keraguan di kalangan rakyat,  sekaligus menjadikan ini isu politik partisan. Tuduhan ini dan segala fitnah seibaratnya tidak akan diangkat selagi matlamat realpolitik – politik mentah-  ini tidak tercapai walauapapun hujah agama, moral, legal, universal  atau peri kemanusiaan digunakan untuk menentang dan membantahnya.

Oleh itu, kenapalah ada pimpinan pergerakan pemisah jamaah islah dengan sebahagiannya berkelulusan Mesir masih ingin meranduk dan berlumpur di kubang jenayah dan dosa besar yang selayaknya menjadi kumbahan geng trio Datuk T, blogger psiko,  sang penibai, sang penghilai dan karakter buruk tak bermoral seumpamanya? Bukankah amsal daripada Sunnah  telah lama diingatkan supaya menjauhi tukang besi tetapi menghampiri penjual minyak wangi?  Kenapa mengambil saksi fasik sambil mendabik dada, mempromosikan orang tidak bermoral, berpakat dengan orang jahat dan menghalalkan matlamat yang jelek? Kenapa relakan rasuah, mendokong yang korup dan menjadi alat perasuah?  Matlamat realpolitik begini adalah semata-mata singkat, temporal, sementara dan di dunia saja. Kesannya dan balasannya adalah abada – selama-lamanya.


Jenayah - Peringatan Kesekian Kalinya

Adapun jenayah zina melibatkan kesalahan kehormatan, maruah dan peribadi individu. Oleh itu, sebelum pertuduhan boleh dibuat, empat saksi perlu dihadirkan supaya tiada pencabulan diri, penyelewengan undang-undang atau kezaliman berlaku kepada hak, kehormatan, maruah dan peribadi Muslim dan Musiimah. Tidak ada kompromi. Ini pegangan ahli fiqh salaf dan khalaf, mereka tidak menerima keterangan-keterangan lain kerana mereka masih mementingkan pemeliharaan  kemuliaan individu dan kesejahteraan masyarakat. Tidak boleh tuduhan melulu atau percubaan sebarang keraguan. Bukan boleh bermain dengan sumpah atau menggunakan circumstantial evidence. Inilah yang diterangkan dalam surah-surah  al hujurat dan al nur. Kita diingatkan supaya jangan menerima pemberitaan orang-orang fasik. Kita diingatkan supaya jangan tuduh menuduh, kata-mengata, umpat mengumpat dan tidak intip-mengintip. Kita diingatkan supaya meminta kehadiran empat orang saksi jika ada tuduhan zina dan jika tidak dapat dihadirkan, maka kita diperintah mengatakan bahawa ini tuduhan pembohongan yang besar dan nyata. Kemudian sesiapa yang menuduh dengan tiada saksi-saksi ini dikenakan hukuman qazaf. Hukumannya adalah sebatan bagi menunjukkan betapa besar dosa ini. Keterangan dan kesaksian mereka ditolak selama-lamanya menurut ulama kecuali bertaubat. Ini adalah ajaran Islam. Ini adalah shariah yang perlu ditegakkan dan didaulatkan.


Kesalahan Kumpulan Pemisah Jamaah Islah

Mereka memilih untuk menolak tujuan utama shariah, mereka mengabaikan pemeliharaan kehormatan manusia dan prinsip kemuliaan insan - karamah insaniyah. Mereka mengkhianati amanah da’wah, dengan mengabaikan prinsip kebenaran dan keadilan, malah mencanggahi seruan kebaikan dan pencegahan kemungkaran. Mereka mempertahankan kebatilan walaupun nyata fasad dan korup serta sekalian kefasikan yang dibawanya. Mereka menyumbang kepada fitnah besar, mentohmah pemimpin Islam dan perjuangan yang digalasnya. Mereka menundukkan ilmu, adab dan kefahaman yang mereka miliki kepada kehendak penguasa dan kekuasaan fana yang ada. Mereka menjadi model contoh ikutan kepada angkatan muda tulus yang bakal hilang kompas moral. Mereka berlaku zalim dengan memainkan bibit-bibit perkauman.


Isu sebenar

Isu sebenar adalah isu keadilan. Jika Anwar Ibrahim secara jujur dirasakan tidak sesuai atau layak diangkat sebagai pemmpin negara, maka gunakanlah segala hujah politik luhur dan strategi politik yang tinggi, adil dan saksama. Berpencaklah dan bertarunglah di pentas demokratik. Berdebatlah secara terbuka, beretika dan sihat dengannya tentang isu-isu kenegaraan, wawasan dan perancangan masa depan. Cubalah secara waras  dengan fakta bahaskan dasar-dasar, program-program dan pandangan-pandangannya tentang Islam, Melayu, pembangunan, ekonomi, pendidikan, keadilan, kemiskinan, nasib rakyat, integriti, penyatuan, perpaduan, masa depan negara, dasar luar dan lain-lain seluasnya. Kempen selebar mungkin, analisa setiap ucapannya, libatserta dan cabar - engage and challenge,  dan cubalah yakinkan penyokong-penyokongnya. Tetapi jika politik dan kuasa digunakan dengan cara yang tidak adil malah menzalimi peribadi yang baik maka inilah angkaranya sehingga fitnah yang jahat dan nyata pun ingin dipertahankan lalu panduan agama serta pendirian moral yang jelas juga dipertikaikan secara partisan yang serong dan sempit. Bayangkan masa depan negara dan nasib generasi era ini serta maruah warga pada masa depan jika politik mentah terus berkuasa.



Kita perlu sedar bahawa surah al nur juga mengingatkan berulang kali bahawa jika bukan kerana rahmat Allah swt ke atas kita semua nescaya telah lama diazab kerana fitnah besar sebegini.

Wednesday, March 5, 2014

KAJANG: JAUHI KEJAHATAN DAN FITNAH














Pada suatu pagi di sebuah surau perumahan di Tambun, Perak, Ustaz menyampaikan kuliah subuh mengolah kitab bahrul mazi berkaitan kejahatan. Dia berseloroh tentang tahap tingkatan kejahatan dengan memberikan contoh dengan menggunakan celupan bahasa Inggeris - jahat, jahater, jahatest. Katanya, Abrahah merupakan yang paling jahat kerana memimpin pengikut-pengikutnya untuk melakukan rancangan  terkutuk iaitu ingin meruntuhkan Ka'bah. Begitu jahatnya Abrahah dengan pengikut-pengikutnya kerana sanggup berangkat dan meredah perjalanan yang jauh daripada Yaman hingga ke Makkah. Abrahah dan pembesar-pembesarnya menunggang gajah manakala tentera-tentera pengikutnya menjadi macai (istilah ustaz) berjalankaki sepanjang perjalanan.

Amat malang apabila "40 NGO" menggelarkan diri "NGO Islam" tetapi membuat fitnah jahat dan menjadi pencacai politik bankrap.

Anwar  Ibrahim tidak pernah ada masalah dengan para alim ulama dan mufti-mufti semasa dia salah seorang pemimpin kerajaan dahulu.  Anwar tidak ada masalah dengan ulama' mu'tabar dunia malah mereka sentiasa mendokong dan membelanya serta berhujah menyokongnya. Anwar tidak ada masalah dengan Ikhwan, Hamas atau kelompok pergerakan Islam mana sekalipun walaupun musuh-musuh cuba berkali-kali untuk mencemuhnya di mata para pejuang. Para pejuang Islam terutama Hamas dan Ikhwan lebih mengenali Anwar, mempercayainya dan mereka lebih mengenali gelagat konco-konco regim serta pengampu kerana mereka telah melalui fitnah yang sama.

Anwar tidak menimbulkan masalah dengan agama lain, bangsa lain dan ramai tokoh politik lain dalam ataupun di luar negara. Prinsipnya adalah engagement. Dia mengambil pendekatan berkenalan dan  bersahabat dengan semua orang. Dia berdialog dengan semua orang.  Dia berdialog dan bersua muka sejak zaman dia memimpin pergerakan belia lagi. Adakah mereka marah Anwar kerana dia berjaya berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua samada di negara atau antarabangsa, Muslim dan bukan Muslim?

Anwar berpegang kepada politik beridealisme. Inilah kata-katanya sendiri tentang pendiriannya:-

"I grew up in a time of great social transformation wherein the interplay of ideas and events coincided with student activism, religious revivalism and political turmoil. Not content to be a mere bystander, I chose to be an active participant instead. I emerged from all this convinced that while a life of contemplation and solitude can indeed be invigorating to the mind and the soul, a life of contemplation coupled with action and fraternity can be even more so. I have no regrets for the road not taken because the one that I took has led me to a challenging and fulfilling public life. And it is in this domain that I will continue to actively and fully participate in the realization of the higher ideals of life."


"Saya dibesarkan pada zaman transformasi sosial hebat di mana berlaku cetusan ledakan idea-idea dan peristiwa-peristiwa berbetulan serta bertindan dengan aktivisme mahasiswa, kebangkitan agama dan pergolakan politik. Saya tidak rela berada selaku pemerhati sahaja, bahkan saya memilih untuk menjadi ahli yang berpartisipasi aktif. Saya muncul daripada semua ini dengan berkeyakinan bahawa sementara pilihan hidup secara bertafakur, berfikir dan bertapa menyendiri boleh menyegarkan dan melazatkan minda dan jiwa, tetapi hidup bertafakur digandingkan pula dengan gerak tindakan dan pupuk persaudaraan lebih memugarkan aktualisasi diri. Saya tidak menyesali jalan yang ditempohi kerana jejak laluan ini telah membawa saya mengalami dan menghayati kehidupan cukup mencabar dan penuh bermakna bagi saya. Dan di ruang lingkup  inilah saya akan terus berperanan secara aktif dan menyertai dengan seutuhnya bagi merealisasikan cita-cita dan matlamat hidup yang lebih tinggi."


Sebahagian mereka yang sanggup menandatangani tuduhan berat dan kenyataan fitnah "40 NGO" lebih mengenali Anwar Ibrahim tetapi dengan sengaja melakukan kedurjanaan. Adakah mereka sudah lupa peribadinya yang mengamalkan ibadah solat sejak kecil, berpegang kepada ajaran Islam, memperjuangkan Islam sebagai ad din sejak bangku persekolahan dan mengasaskan pergerakan kebangkitan Islam negara? Adakah mereka lupa bahawa dia yang mengajar dan mendidik mereka, menyedarkan mereka dan menginspirasikan mereka untuk turut serta dalam gelombang kebangkitan baru Islam pada waktu mereka masih muda? Adakah mereka lupa bahawa inilah orang yang menjadi lambang setiakawan dan memberikan erti persahabatan dalam perjuangan?

Memang berbaris dan bergilir malah berebut-rebut sekalian tukang ampu, pencacai,  para pemberita pembawa naba fasiq dan pengaut pangkat dan laba, bersusun sesak dengan bermacam-macam idea dan makar bagaimana dan apa kata-kata  nista dan celaan yang direka bagi mengutuk dan menginginkan supaya hancur lebur manusia bernama Anwar Ibrahim. Mereka mahu rakyat meragui keikhlasan dan idealisme perjuangan yang dibawa Anwar. Asalkan rakyat terutama orang Melayu ragu, matlamat mereka tercapai. Betapa bodoh sekalipun rekayasa dan tuduhan itu, asalkan Anwar diganyang. Matlamat kerdil bagi mengekalkan kuasa pemerintahan sedia ada menghalalkan cara tak kira betapa korup dan fasad penaja dan penaung mereka. Bukankah nyata sekali ini kerja orang jahat?

Maka segala ajaran Islam tentang Iman, Islam dan Ihsan diketepikan begitu saja. Segala hukum shariah mereka langgar dengan membuat tuduhan melulu tanpa bukti dan tanpa bicara, tanpa pengadilan. Apabila jelas ada pimpinan di belakang mereka yang membayangkan menyokong idea penolakan hadith, mereka diam seribu bahasa. Mereka ada penyakit di dalam hati mereka.

Sebelum ini mereka cuba mematahkan kemaraan Anwar Ibrahim dengan menuduh dan menjadikannya penjenayah, malah mengurungnya di dalam penjara. Tidak cukup dengan itu, mereka cuba bunuh karakternya dengan cara yang amat aib dan paling hina dalam sejarah. Kemudian mereka cuba menanamkan keraguan umat kepada kefahaman agamanya. Kini mereka melampaui semua itu dengan menghampiri kalimat kekufuran - mengandaikan Anwar dengan sifat Dajjal. Semoga Allah swt melindungi kita daripada fitnah mereka!

Mereka mendapat segala kelebaran akses media, siaran perdana dengan segala perlindungan dan penajaan. Ini mengingatkan kita semula kepada angkara geng Datuk T dan cubaan gila video aib mereka, menyebar kejahatan secara berleluasa. Modus operandi mereka sama saja walaupun kaedah cara kutukannya berbeda - fitnah dan biarkan saja - asalkan tercalit keburukan kepada Anwar dan menghakis kepercayaan rakyat kepadanya.

Adalah jelas kenyataan dan kelakuan "40 NGO" ini satu kejahatan yang besar. Matlamat mereka amat  cetek sekali iaitu cuba menghalang dan menjadi satu lagi alat rintangan kemaraan seorang pemimpin yang masih mendapat tempat pada hati sanubari kebanyakan penduduk negara ini.

Selama 15 tahun lamanya, serangan demi serangan peribadi, fitnah, tuduhan, pendakwaan, di perbicaraan, di kaca TV, akhbar, di internet - mencela diri Anwar dan keluarganya, menggasak penyokongnya serta sahabat-sahabatnya dalam gerakan Islam dan aktivis masyarakat. Betapa banyaknya saham kejahatan terkumpul oleh parti, regim, penyokong, pencacai, pemberita, penulis, ahli panel, pegawai, pengacara dan penganalisa, segala makhluk yang dikerahkan serta para pendengar dan pembaca yang setia. Istilah keji, terkutuk dan kata-kata paling nista telah diperkenalkan kepada masyarakat  tak kira tua, muda dan kanak-kanak.  Semua ini dilakukan secara tersusun, berterusan dan tanpa segan silu ataupun rasa bersalah selama 15 tahun dan masih berjalan lagi. Semua ini semata-mata untuk menyekat  Anwar Ibrahim dan perjuangannya. Apabila dimuhasabah semula sudah tentu lebih banyak perkara yang bermanfaat dan menyelamatkan diri dan membina negara bangsa yang boleh dilakukan dengan segala sumber, jentera,  tenaga dan masa yang terbuang dengan bergelumang angkara fitnah dan tidak akan boleh ditebus semula.

Barangkali "40 NGO" ini sudah terlupa bahawa hujah "21 dalil" ini mirip dalil-dalil rekaan arwah Khalid Jefri yang memulakan era menfitnah Anwar sehingga kini, malah "40 NGO" ini semacam pewaris angkara bejat yang basi dan lama. Mereka pasti akan hampa dan kehampaan ini jika tidak kembali ke pangkal jalan akan berlaku selama-lamanya.

Sahabat-sahabat sejati Anwar Ibrahim di dalam gerakan Islam telah lama kenal peribadi dan perjuangannya, tidak pernah meraguinya dan sentiasa menyokongnya. Prinsip yang dipegang adalah pada menegakkan kebenaran dan keadilan, prinsip Islam yang menolak  kezaliman, kebatilan dan kepura-puraan. Inilah pengkalan yang selamat dan bahtera perjuangan Islam. Kawan-kawan yang telah isytihar meninggalkannya dan memilih pula untuk bersekongkol memfitnah juga tahu semua ini, namun mereka telah mengambil jalan yang semacam tiada titik kembali ke pengkalan lagi.

Inilah kata-kata Anwar Ibrahim kepada sahabat-sahabatnya sebaik saja dibebaskan daripada penjara - 

Pada tahun 1974, pertama kalinya pada September 1974, kerana memperjuangkan masalah kemiskinan Baling, saya dipenjarakan tetapi keadaan waktu itu tidaklah seteruk. Tetapi kali ini (1998), ia amat berat bagi saya secara peribadi, merasai kepayahan, penghinaan, sukar kerana usia dan kedudukan. Saya telah dipukul, ditelanjangkan, dibiarkan bagaikan se ekor haiwan, dinafikan rawatan. Bagaimana untuk menceritakan layanan buruk ini? Sukar juga untuk memahami bagaimana boleh sampai begini jadinya. Saya terpaksa mengharunginya, Azizah dan anak-anak juga terpaksa mengharunginya. Waktu itu amat mencabar dan sangat getir. Di situlah ABIM membantu dan menolong, memberikan keyakinan bagi saya.

Banyak lagi sekatan berat yang bakal menempuhi ahli politik idealis bernama Anwar Ibrahim. Apabila ditanya kenapa dia masih sanggup menjejaki jalan ranjau penuh penderitaan ini dengan segala mehnah dan fitnah, dia menjawab, dengan merujuk kepada ungkapan Islah mastata'tum - surah Hud:88 - “Tidaklah kami mahu melainkan untuk melakukan islah sekuat daya kami.”

Apabila ditanya bagaimana dia mencari kekuatan dengan dugaan besar yang dihadapinya, dia merujuk kepada pesanan tok guru dan alim ulama supaya berpaut kepada ungkapan Innalladzina qalu rabbunallah (sesungguhnya orang-orang yang mengatakan,Tuhan kami ialah Allah”) sebagai pengakuan atas ketuhanan-Nya dan keesaan-Nya - thummas taqamu (kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka) (Surah al Fushshilat: 30)



Friday, February 21, 2014

KESALAHAN KASSIM



Kassim Ahmad mengulang-ngulangi kepercayaan kelompok Quraniyyun bahawa hanya Quran yang autentik dan boleh dipakai, sedang Hadith harus diketepikan kerana Hadith tertakluk kepada kesilapan manusia (human errors). ‘Percanggahan-percanggahan’ Hadith-Quran dan Hadith-Hadith serta kepalsuan-kepalsuan dalam Hadith, dilihat menjadi sebab perpecahan umat Islam yang berterusan dan menjadi punca keterbelakangan umat. Nama orang lain tergolong dalam ahl al-Quran atau munkir al-hadith ialah seperti Rashad Khalifa di Tucson, Arizona.

Sejak dulu lagi hujjah kelompok ini telah dijawab dengan tegas seperti yang dilakukan oleh al-Shafi'i dalam kitab Jima'al-'Ilm dan juga oleh Ibn Qutaybah dalam Ta'wil Mukhtalif al-Hadith. Kassim sendiri telah berdialog dalam sesi yang dianjur oleh ABIM pada tahun 1986 ekoran penerbitan buku kontroversial beliau ‘Hadith: Satu Penilaian Semula’. Hujjah-hujjah beliau telah dipatahkan satu persatu dan hasilnya sebuah buku diterbitkan berjudul ‘Islam dan al-Hadith: Dialog Bersama Kassim (1991). Sekalipun demikian, pendirian beliau tidak berubah. Pegangan beliau dengan Kod 19 Rashad Khalifa dan pendewaan terhadap aqal yang keterlaluan, masih kekal (termasuk dalam menentukan Hari Akhirat yang dijangkanya akan berlaku tahun 1710 Hijrah atau 2280 Masehi). Saya tidak fikir dialog baru akan membawa apa-apa faedah.

Kesalahan beliau yang fatal ialah menolak Hadith sebagai sumber hukum yang otoritatif dan berpegang hanya dengan al-Quran. Muhammaad s.a.w., dalam konteks ini, dilihatnya bagaikan seorang ‘posmen’ yang hanya menjadi penyampai yang tidak penting – didakwanya tanpa Muhammad sekalipun, risalah Islam boleh disampaikan dengan sempurna. Kerana itu Hadith dan Sunnah tidak mempunyai tempat yang signifikan dalam Islam menurutnya. Satu persoalan timbul: Bagaimana menentukan bahawa kata-kata itu dari Allah kalau tidak berdasarkan kenyataan Muhammad s.a.w. Seperti yang dihujjahkan oleh Gibril Haddad dalam ‘The Sunnah as Evidence: The Probativeness of the Sunna’, bahawa dasar Islam iaitu al-Quran, dan al-Quran tidak dapat dipastikan sebagai ‘Firman Allah’ kalau seseorang itu menolak Sunnah, kerana yang menegaskan bahawa Quran itu benar dari Allah, adalah berdasarkan kenyataan Nabi Muhammad s.a.w. sendiri. Katanya lagi, “Tidak dapat kita bayangkan seseorang yang menolak wibawa Sunnah tetapi boleh kekal sebagai seorang Muslim”.

Muhammad s.a.w., tidak seperti Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. Baginda adalah Khatam al-Nabiyyin (Penutup Para Nabi dan Pembawa Risalah Terakhir). Nabi Musa dan Nabi Isa telah ditentukan Allah hanya menyampaikan nasihat dan ajaran dari tampil sebagai manusia contoh yang lengkap. Tetapi Baginda Rasulullah s.a.w. bukan sekedar menyampaikan ajaran dan risalah tetapi juga tampil sebagai contoh ikutan (role model) yang menterjemah dan memperinci perintah-perintah al-Quran dalam bentuk Sunnah termasuk hadith-hadith. Selain al-Quran sebagai sumber utama, hadith-hadith Baginda, yang dikumpul dan diriwayat berdasarkan kaedah-kaedah yang standard dan ketat, telah menjadi asas pembinaan masyarakat Islam dan tamaddunnya yang gemilang.

Kesalahan kedua Kassim Ahmad ialah penghinaan yang dituju kepada para ulama’ yang dianggapnya satu kasta paderi seperti dalam agama Kristian dan Hindu. Mereka dituduh melantik diri sendiri sebagai penafsir agama. Imam Shafi’e dituduhnya sebagai orang pertama yang mereka-reka doktrin baru menjadikan Hadith sebagai sumber hukum. Dia melihat ulama’ dengan pandangan yang amat jelik. Ulama’ baginya adalah para penipu yang memanfaat kedudukan bagi kepentingan diri, dengan menafsir agama menurut nafsu. Betapa sempitnya tempurung akalnya.

Majoriti umat mengenal sejumlah besar para cendekiawan dan ulama’ yang berwibawa, menekuni ilmu dengan penuh keikhlasan, demi membimbing umat. Mereka berusaha membersihkan kehidupan umat dari khurafat dan pemikiran-pemikiran yang menyesatkan. Mereka mewacana secara mendalam pelbagai aspek ajaran Islam dan memikirkan kaedah mengaplikasinya sesuai dengan perubahan masa dan keadaan. Mereka menulis, berdialog, mewacana bagi memperkembangkan ilmu berdasarkan semangat keilmuan yang didorong oleh al-Quran. Hasil usaha mereka terbangun revolusi intelektual yang mendorong kebangkitan kebudayaan tamadun Islam yang hebat. Ilmu, pemikiran dan nasihat-nasihat mereka, berjaya mempertahan kedudukan Islam sekalipun di saat-saat paling lemah. Sebahagian besar dari Ilmu dan Hikmah yang dibangunkan oleh mereka menjadi khazanah berharga yang tetap segar dan applicable walaupun masa telah berubah.

Dalam konteks kita, ulama’ yang bertaqwa, tulus dan tekun, setia kepada kebenaran dan keadilan, akan dihormati selayaknya. Mereka mempertahankan kesucian agama dengan mempertaruhkan jiwa raga mereka. Mereka mengorbankan seluruh kehidupan mereka demi agama dan umat. Tuduhan bahawa umat Islam adalah bodoh lalu mendewa-dewakan ulama’ dan menganggap mereka sebagai maksum, adalah keterlaluan dan menggambarkan akal yang cetek dan sempit. Membuang ulama’ dan para cendekiawan Islam bermakna membuang separuh dari khazanah ilmu dan tamaddun Islam yang tidak ternilai dan mnggelapkan separuh dari dunia. Kehebatan para ulama’ dan peranan mereka dalam menjaga (safeguarding) umat adalah ciri yang terang, jelas dan menonjol. Kemunculan segelintir pseudo-ulama’ di mana-mana dalam sejarah adalah fenomena biasa, namun itu tidak akan mampu memadam jasa sejumlah besar ulama' tulen yang telah mengorbankan seluruh hidup mereka demi agama dan umat sejagat.

Kesalahan ketiga ialah pendewaan terhadap kemampuan akal manusia (baca: akal dirinya). Ulama’ dilihat memonopoli penafsiran agama. Tanpa kita menafikan adanya ulama’ jadi-jadian yang menafsir agama sesuka nafsu, umumnya ulama’ mempunyai disiplin tertentu dalam membahaskan isu-isu yang berkaitan dengan agama. Ulama’ biasanya/seharusnya memiliki keupayaan bahasa Arab yang baik (sewajarnya bersama bahasa Inggeris dalam konteks hari ini), menguasai dan memahami ilmu-ilmu berkaitan al-Quran dan al-Sunnah, dan memiliki persyaratan untuk berijtihad. Dari sini muncul istilah-istilah qawa’id fiqhiyyah, siyasah syar’iyyah, maqasid al-syari’ah yang memandu mereka membuat keputusan. Mereka perlu mengambilkira pengetahuan berkaitan fiqh al-awwaliyyat, fiqh al-muwazanah, fiqh al-waqi’ dan lain-lain.

Barangkali dengan pensyaratan yang ketat ini, tidak ramai mereka yang melayakkan diri untuk berijtihad dan membuat tafsiran. Maka sebagai jalan mudah, mereka tidak mengiktiraf lalu mengenepikan semua syarat ini. Bagi mereka cukup dengan hanya menggunakan aqal rasional. Dengan cara begini ‘monopoli ulama’ dapat dipecahkan, hingga sesiapa sahaja boleh menafsirkan apa sahaja dari agama (Islam). Al-Quran pun boleh diterjemah menurut apa yang difikirkan ‘tepat’ mengikut fikiran masing-masing. Dalam banyak hal mereka biasanya akan menggunakan kaca mata golongan liberal-modernis bagi menafsir termasuk ayat-ayat al-Quran. Sebab itu mereka selalunya mengongsi pandangan yang sama dalam soal hijab, hudud, murtad, faraid dan hak-hak wanita.

Kelompok Quraniyyin (anti-Hadith) boleh pergi lebih jauh dalam kesesatannya. Kassim Ahmad misalnya, menafsir sendiri dengan menggunakan Kod 19 dan ‘petunjuk’ dari al-Quran bahawa alam Akhirat itu akan berlaku bila berakhir tempoh kerasulan Nabi Muhammad iaitu pada tahun 1710 Hijrah bersamaan 2280 Masehi, walaupun di tempat yang lain dia menyebut bahawa ‘tarikh Kiamat tidak diketahui, kecuali Tuhan’. Syurga dan neraka, katanya ‘bukan tempat, tetapi keadaan mental, emosi dan kejiwaan yang berlaku di dunia ini juga’. Demikian juga penyebutan frasa kedua dalam syahadah, ‘Muhammad al-Rasulullah’ ditafsirkan sebagai pendewaan terhadap Nabi Muhammad s.a.w. Sekalipun mereka ini mempercayai keesaan Allah, tapi mereka menolak untuk mengikuti Muhammad, sedang Allah sendiri memerintah supaya mengikuti Baginda. Al-Quran menegaskan ‘Katakan: kalau kamu mengasihi Allah, ikutlah daku (Muhammad), nescaya Allah akan mengasihi kamu’ - Aali Imran 3:31.

Kita tidak mengetahui penghujung seseorang, termasuk diri kita sendiri. Sewajarnya kita mendo’akan mereka yang terpesong kembali sedar dan balik ke pangkal jalan. Mendekati beliau secara intelektual telah dilakukan menerusi dialog dan wacana, tetapi tidak banyak membawa perubahan. Selagi ego orang yang memanggil dirinya sebagai ‘Malaysia’s foremost thinker and philosopher’ tidak merendah ke bawah, ‘mendekatinya’ atau berdialog dengannya mungkin membuang masa. Al-Quran mengingatkan bahawa ‘Apabila orang-orang bodoh menyapa, mereka berkata: Salam (lalu beredar, tidak melayani mereka lagi) - Al-Furqan 25:63.


(disunting daripada nukilan Hj Abd Halim Ismail, Setiausaha WADAH Pencerdasan Umat)


Nota Glosari:-

The Probativeness of the Sunna’ - Hujjiyya al-Sunna – bukti kesahihan Sunnah.

Syariah- segala perintah Allah s.w.t. dalam bentuk hukum atau peraturan yang bersifat menyeluruh dan sangat luas bidangkuasanya. la merangkumi seluruh titah perintah dan ketentuan Allah yang diwahyukan samada yang ditegaskan di dalam al-Quran ataupun yang berasaskan kepada al-Sunnah. Di dalamnya terdapat aspek-aspek itiqadiyyah atau batiniyyah (hal-hal yang berkaitan dengan aqidah dan keimanan), amaliyyah (hal- hal yang berkaitan dengan ibadat, muamalat, munakahat dan jenayah iaitu hal-hal yang menyentuh mengenai perbuatan atau perlakuan lahiriah manusia dalam konteks hubungan atau interaksi mereka dengan Allah s.w.t., sesama manusia, dan alam lain) dan juga aspek akhlakiyyah (yang membahaskan mengenai budi pekerti atau moral manusia sebagai individu dalam bermasyarakat dan bernegara).

qawa’id fiqhiyyah - Prinsip amali syar’ie yang menyeluruh dan meliputi semua juzu’ di bawahnya dengan nyata

Siyasah syar`iyyah ialah ilmu yang membincangkan mengenai pentadbiran sesebuah kerajaan Islam yang terdiri daripada undang-undang dan sistem yang berasaskan kepada asas-asas Islam atau mentadbir urusan umum daulah Islamiah dengan cara yang membawa kebaikan kepada manusia dan mengelakkan mereka daripada kemudharatan, tanpa melanggar sempadan syarak dan asas-asas kulliyyah walaupun dalam perkara yang tidak disepakati oleh ulama mujtahidin.

maqasid al-syari’ah - fokus utama maqasid atau tujuan syariah untuk menjamin kemaslahatan atau kebaikan kepada semua manusia dan pada masa yang sama menghindarkan kemudharatan atau keburukan yang mungkin menimpa mereka.

Fiqh - bermaksud keilmuan atau kefahaman mengenai hukum-hakam syariah yang bersifat amali yang difahami melalui dalil-dalllnya yang terperinci.

fiqh al-awwaliyyat – (Fiqh Urutan keutamaan amal) -  meletakkan sesuatu pada urutannya dengan adil, dari perkara hukum, nilai dan amalan, kemudian mendahulukan yang lebih utama berdasarkan kepada timbangan syarak yang tepat, maka tidaklah perkara remeh didahulukan dari perkara penting, tidak pula perkara penting mendahulu perkara yang lebih penting, tidak juga perkara marjuh(lemah) mendahului perkara yang rajih, tidak juga perkara yang kecil keutamaannya mendahului perkara yang besar keutamaannya, bahkan hendaklah didahulukan yang berhak didahulukan serta dikemudiankan yang berhak dikemudiankan, tidak dibesarkan perkara yang kecil, tidak dipermudahkan perkara yang penting, hendaklah diletakkan setiap sesuatu ditempatnya dengan timbangan yang tepat tanpa tindakan yang melampau dan merugikan

fiqh al-muwazanah – merujuk kepada pertimbangan di antara masalih (kebaikan) dan mafasid (keburukan) di dalam menentukan keutamaan hukum.

fiqh al-waqi’ - ilmu yang membincangkan bagaimana dapat memahami keadaan semasa, faktor-faktor yang mengesani serta kuasa-kuasa yang sedang mendominasi perjalanan masyarakat. Ilmu ini melibatkan satu proses untuk mengenalpasti, menganalisis dan mentafsir isu, trend, anjakan paradigma, sentimen dan fenomena yang wujud dalam masyarakat bagi memenuhi tuntutan kontemporari syariah.



Sunday, February 9, 2014

DR SIDDIQ FADIL: MENANGANI KONFLIK SESAMA MUKMIN: TAFSIR MAUDU’IY SIRI 68


DR SIDDIQ FADIL:  TAFSIR MAUDU’IY SIRI 68
MENANGANI KONFLIK SESAMA MUKMIN (Ayat 9 & 10 surah al-Hujurat)

9. Dan apabila ada dua golongan orang Mukmin yang berperang, maka damaikanlah
antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.

10. Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara, kerana itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.


Latar Penurunan Ayat:

Penurunan ayat 9 di atas dikaitkan dengan beberapa peristiwa, termasuk yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Muslim, ibn Jarir dan lain-lain dari Anas ibn Malik r.`a. , “Bahawa seseorang menyarankan agar Rasulullah s.`a.w. mendatangi `Abdullah ibn Ubay. Junjungan s.`a.w. pun berangkat dengan menaiki keldai, sedang kumpulan Muslimin yang lain berjalan kaki. Di suatu tempat (Ard Sabikhah), keldai yang dinaiki Rasulullah s.`a.w. kencing. `Abdullah ibn Ubay lalu berkata, “Menjauhlah engkau dari aku, demi Allah, bau busuk (kencing) keldaimu mengganggu aku‟. Kata-kata itu dijawab oleh `Abdullah ibn Rawahah, “Demi Allah, bau kencing keldainya lebih harum daripada kamu!‟. Kejadian berbalas-balas kata itu sudahnya berhujung dengan perkelahian antara penyokong-penyokong kedua belah pihak, mereka saling memukul dengan pelepah (tamar), tangan dan kasut (mujur tidak sampai menggunakan pedang)”, lalu turun ayat 9 surah al-Hujurat tersebut dan Rasulullah s.`a.w. pun segera mendamaikan mereka (catatan: `Abdullah ibn Rawahah dari suku Khazraj, sementara `Abdullah ibn Ubay dari suku Aus).


Huraian Maksud Ayat:

Mesej yang terungkap dalam ayat 9 di atas adalah suatu kaedah atau formula praktikal untuk memelihara keutuhan masyarakat Islam dari ancaman perpecahan akibat gejolak emosi dan dorongan nafsu yang tidak terkawal. Memang sesuai ayat ini ditempatkan berurutan dengan pesan tabayyun atau mendapatkan kepastian tentang berita fasiq demi menghindari kegopohan bertindak tanpa dasar bukti yang pasti. Bertindak terburu-buru kerana didorong rasa marah, sebelum melakukan tabayyun selalu berakibat buruk, memangsakan orang tidak bersalah, dan akhirnya membawa penyesalan. Formula memelihara keutuhan umat dalam ayat ini terumus pada kata islah, iaitu usaha pendamaian (antara pihak-pihak yang berkonflik) dengan didasari prinsip kebenaran dan keadilan menurut hukum Allah. Lewat ayat ini al-Qur‟an mengantisipasikan kemungkinan berlakunya perang antara dua golongan mukminin. Sifat mu’minin kedua-duanya masih tetap kekal, dengan kemungkinan salah satu golongan (mukmin) itu telah berlaku zalim ke atas yang lain, atau berkemungkinan juga kedua-duanya saling menzalimi. Apabila konflik sedemikian itu terjadi, kaum mukminin yang tidak terlibat, harus segera bertindak melakukan islah, mendamaikan kedua-dua pihak yang berkonflik itu. Sekiranya salah satu pihak berlaku zalim, enggan kembali kepada kebenaran; atau jika kedua-dua pihak sama-sama berlaku zalim, berkeras tidak mahu menerima perdamaian (sulh), tidak mahu menerima hukum Allah dalam isu yang dipertikaikan, maka seluruh umat mukminin yang lain harus memerangi golongan yang zalim sehingga mereka kembali kepada perintah dan ajaran Allah iaitu menghentikan permusuhan dan menerima ketetapan Allah dalam isu yang menjadi punca permusuhan. 

Apabila golongan yang zalim itu telah bersedia untuk menerima hukum Allah, proses islah harus dilaksanakan berasaskan prinsip keadilan yang murni dan disemangati ketaatan kepada Allah demi mencapai ridha-Nya. Perintah melakukan islah dan memerangi golongan yang zalim dalam ayat 9 ini terutamanya ditujukan kepada golongan penguasa (wulat al-umur). Merekalah yang seharusnya bertindak cepat mendamaikan dengan menasihati dan menyeru mereka kembali kepada hukum Allah, serta menyelesaikan masalah-masalah yang menjadi punca pertikaian. Kecepatan bertindak melaksanakan islah bertujuan untuk mengembalikan keadaan normal dalam masyarakat Islam iaitu damai. Bagi masyarakat Islam konflik adalah suatu kekecualian, bukan kebiasaan. Kata in (jika) pada pangkal ayat 9 tersebut mengisyaratkan bahawa konflik atau perang tidak seharusnya terjadi dalam kalangan sesama muslimin, dan jika terjadi juga ia adalah suatu kekecualian yang jarang berlaku. Kerana itu pula memerangi golongan mukminin yang berlaku zalim (allati tabghi) dilakukan seperlunya, boleh dengan menggunakan senjata (jika perlu), atau tanpa senjata. Yang penting adalah (al-fay’ah) mengembalikan mereka kepada hukum Allah, bukan menghabisi mereka. Justeru, mereka adalah al-mu’minin, bukan kafirin dan bukan mushrikin.

Peranan orang tengah dalam sebarang konflik memang sangat penting, dan ayat 9 ini pun sebenarnya ditujukan kepada mereka. Selain diperintahkan agar bertindak cepat melakukan islah, orang tengah juga diperingatkan agar berlaku adil, memberikan hak kepada yang berhak, bukan mengambil kesempatan untuk kepentingan diri - mencari publisiti atau keuntungan politik. Segalanya harus dilakukan dengan ikhlas semata-mata demi meraih ridha dan cinta Ilahi menerusi amal keadilan (sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil). Pada ayat 10, perintah islah (mendamaikan pihak-pihak yang berkonflik) diulangi lagi dengan mengingatkan semangat yang mendasarinya, iaitu ukhuwwah imaniyyah dan taqwa kepada Allah. Persaudaraan kaum mukminin diasaskan pada perkongsian prinsip iman. Justeru, kepada prinsip yang dikongsi bersama itulah mereka harus kembali ketika bersengketa. Selain itu segala urusan yang menyangkut hubungan sesama mukmin harus berdasar pada taqwa, rasa takut kepada Allah yang membangkitkan ghairah mentaati perintah-Nya dan kewaspadaan terhadap larangan-Nya. Asas persaudaraan dan taqwa sedemikian itulah yang akan mendorong sikap adil, tidak berat sebelah, tidak pilih kasih dan tidak pandang bulu kerana semuanya adalah saudara yang harus sama-sama didamaikan dan diselamatkan daripada kezaliman. 

Jika ayat 9 mengantisipasikan konflik antara dua golongan mukminin (ta’ifatani min al-mu’minin), ayat 10 pula mengantisipasikan konflik antara dua individu mukmin (bayna akhawaykum). Konflik pada tahap antara dua individu juga harus segera didamaikan (fa ‘aslihu…) agar tidak melarat dan meningkat ke tahap yang lebih parah. Taqwa kepada Allah yang mendasari segala urusan perhubungan sesama mukmin ketika berkonflik dan ketika berdamai akan membawa harapan curahan rahmat dari Allah s.w.t. Ternyata mesej utama ayat 9 dan 10 surah al-Hujurat adalah islah (mendamaikan). Kata fa ‘aslihu…(maka damaikanlah…) disebut tiga kali pada dua ayat yang berurutan itu. Hukum al-Bughah Pada ayat 9 terdapat kata baghat dan tabghi yang seakar dengan kata baghy dan baghin. Kata al-baghyu selalu diertikan sebagai kezaliman atau melampaui batas, sementara pelakunya disebut baghin yang kata jamaknya ialah bughah (t). Kitab al-Muharar (al-Rafi`iy) memuatkan perbahasan tentang al-bughah yang diawali dengan ayat 9 surah al-Hujurat tersebut. Memang, seperti yang disebut oleh Muhammad Hamidullah (Muslim Conduct of State) ayat tersebutlah satu-satunya asas pijakan hukum bughah. Golongan al-bughah dalam definisi kaum fuqaha‟ seperti yang dirumuskan oleh Dr. Ibrahim ibn `Aliy Sandaqjiy (pentahqiq Kitab Qital ahl al-Baghy oleh al-Mawardiy) ialah mereka yang melawan imam (pemerintah) adil, yang ingkar mematuhinya dengan enggan melaksanakan kewajipan tanggungannya (al-mukhalif li al-imam al-`adil, al-kharij `an ta`atihi bi al-imtina` an ada’i ma wajaba `alayhi). Sementara itu M. Abdul Mujieb dkk dalam Kamus Istilah Fiqih memasukkan kata bughat dengan pengertian “Bentuk jamak dari kata mufrad baghin, artinya: seorang penentang atau pemberontak yang bersenjata. Bughat berarti: Orang-orang yang mengadakan perlawanan terhadap pemerintahan yang sah kerana terjadinya kesalahfahaman politik. Pihak pemerintah wajib memerangi mereka dengan syarat: (1) Mereka memiliki kekuatan yang memungkinkan mereka mengadakan perlawanan fisik yang dapat mengancam keamanan negara; (2) Bahwa mereka bersikap memusuhi pemerintah dan tidak mengakui lagi kekuasaan pemerintah yang sah; (3) Bahwa sebab utama pemberontakan kerana terjadinya salah faham tentang politik pemerintahan”.

Al-Shaykh Muhammad al-Khatib al-Sharbiniy dalam Mughni al-Muhtaj (sharah matan Minhaj al-Talibin oleh al-Nawawiy) mengatakan bahawa ayat 9 surah al-Hujurat tersebut memang tidak menyebut secara eksplisit tentang isu melawan al-imam (al-khuruj `ala al-imam), tetapi ia bersifat umum dan inklusif yang meliputi persoalan bughah. Jika umat diperintahkan perang terhadap kezaliman suatu kumpulan orang (mukmin) ke atas kumpulan orang (mukmin) yang lain, maka lebih-lebih lagilah jika mereka menzalimi (melawan) imam (ketua negara) yang sah. Ketika menghuraikan makna mukhalafat al-imam (melawan imam), al-Sharbiniy mengatakan bahawa ia terjadi dengan salah satu daripada dua perkara: pemberontakan terhadap diri imam itu sendiri, atau dengan keengganan tunduk patuh kepadanya. Tetapi boleh juga berlaku selain dengan dua cara tersebut, iaitu keengganan melaksanakan sesuatu hak tertentu (man’i haqqin) yang memang menjadi kewajipan mereka. Misalnya, golongan yang enggan membayar zakat (mani` al-zakah), yang diperangi oleh Abu Bakr al-Siddiq r.`a., walhal mereka tidak memberontak terhadap diri peribadi khalifah tersebut. Dalam huraian selanjutnya al-Sharbiniy menyatakan bahawa mereka yang melawan imam itu menjadi bughah jika mereka memenuhi tiga syarat. Pertama, mereka memiliki shawkah atau kekuatan (jumlah yang ramai dan senjata yang banyak) yang memungkinkan mereka melawan imam, dan memaksa imam menggembleng kekuatan (persenjataan, kewangan dan tenaga manusia) untuk menghadapi mereka. Kedua, mereka berpegang pada suatu ta’wil yang mereka yakini mengharuskan pemberontakan terhadap imam atau mengharuskan mereka tidak menunaikan sesuatu hak yang menjadi kewajipan mereka. Ta’wil dalam konteks ini disyaratkan bahawa ia adalah fasid, tetapi mereka yakini sebagai justifikasi yang mengharuskan mereka memberontak. Misalnya ta’wil golongan peserta perang Jamal dan Siffin yang memberontak terhadap Imam `Aliy k.w. bahawa beliau (`Aliy) tahu siapa pembunuh-pembunuh `Uthman r.`a. dan mampu mengambil tindakan ke atas mereka, tetapi tidak melakukannya. Demikian juga ta’wil golongan yang enggan membayar zakat (mani` al-zakah) kepada Abu Bakr r.`a., bahawa mereka tidak membayar zakat kecuali kepada orang yang do`anya (membawa) kedamaian jiwa bagi mereka, iaitu Nabi s.`a.w. (al-Tawbah:103). Ketiga, adanya muta`un fihim iaitu seorang pemimpin yang dipatuhi oleh semua warganya, kerana tidak mungkin tercapainya kekuatan (syawkah) tanpa pemimpin yang dipatuhi. Golongan bughah (yang memenuhi syarat-syarat tersebut) wajib diperangi untuk mengembalikan kesetiaan mereka kepada imam. Tetapi sebelum sampai ke tahap perang, ada satu proses yang wajib dilaksanakan lebih dahulu iaitu islah. Dalam kaitan ini al-Mawardiy dalam Kitab Qital Ahl al-Baghy (sebahagian daripada karya ensiklopediknya al-Hawiy al-Kabir) menyatakan, apabila syarat-syarat yang muktabar untuk memerangi mereka telah dipenuhi, al-imam tidak boleh memulai (perang) hingga setelah menanyakan mereka tentang sebab penentangan mereka. Jika mereka menyebut tentang sesuatu kezaliman, hendaklah ia dihentikan; jika mereka menyebut sesuatu shubhah atau kekeliruan, hendaklah ia dijelaskan sehingga nyata kebenaran di pihaknya, kerana Allah s.w.t. memerintahkan islah dahulu dan kemudiannya barulah perang.

Demikianlah tahapan proses yang harus dilalui, islah dahulu perang kemudian, dan tidak sebaliknya. Memang tidak siapa pun yang berhak mendahulukan apa yang dikemudiankan oleh Allah (taqdim ma akhkharahu ‘Llah). Dalam isu memerangi kaum bughah yang selalu menjadi rujukan adalah cara Sayyidina `Aliy k.w. menangani kaum bughah Khawarij. Sebelum memerangi mereka `Aliy k.w. lebih dahulu mengutus Ibn `Abbas r.`a. kepada kaum al-Khawarij di Nahrawan untuk meminta penjelasan tentang sebab penentangan mereka dan membetulkan kekeliruan ta’wil mereka. Ibn `Abbas r.`a. berkata, “`Ali ibn Abi Talib adalah sepupu Rasulullah s.`a.w. yang juga menantunya (suami puterinya). Kalian tahu kemuliaannya, lalu apa yang kalian tentang?” Mereka menjawab ada tiga isu yang menjadi punca penentangan mereka. Pertama, `Aliy (k.w.) bertahkim dalam urusan agama Allah sedang Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya sudah lebih daripada cukup (tidak memerlukan tahkim). Kedua, ketika memerangi lawannya, `Aliy (k.w.) hanya membunuh tetapi tidak mengambil harta rampasan dan tidak menawan wanita serta anak-anak mereka. Ketiga, `Aliy (k.w.) telah memadam namanya sebagai khalifah. Ibn `Abbas r.`a. menjawab ketiga-tiga isu tersebut dengan hujah-hujah al-Qur‟an dan al-Sunnah. Pertama, tentang isu tahkim dalam agama Allah, Ibn `Abbas menyebut bahawa Allah s.w.t. sendiri bertahkim dalam agama sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Nisa’ ayat 35, “Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki, dan seorang juru damai dari keluarga perempuan.” Demikian juga firman-Nya dalam surah al-Ma’idah ayat 95, “…menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu…”. Jika isu seekor arnab yang harganya cuma satu dirham diputuskan secara tahkim, apa lagi isu besar seperti ini. Kedua, tentang sikap `Aliy (k.w.) yang hanya membunuh, tetapi tidak menawan (wanita dan anak-anak), Ibn `Abbas berhujah bagaimana andainya (dalam perang Jamal) `Aishah r.`a. (isteri Nabi s.`a.w.) menjadi tawanan salah seorang dalam kalangan mereka, apa yang akan ia lakukan? Bukankah Allah s.w.t. telah berfirman, “…dan tidak boleh (pula) kamu menikahi isteri-isterinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat)…” - al-Ahzab:53. Dalam al-Majmu` Imam Nawawiy (sharah al-Muhadhdhab) ayat yang dibaca oleh Ibn `Abbas ialah, “…dan isteri-isterinya adalah menjadi ibu mereka…” – al-Ahzab:6. Ketiga, mengenai kesediaan `Aliy k.w. memadam namanya dari khilafah ketika menulis dokumen tahkim dengan Mu`awiyah, Ibn `Abbas r.`a. berhujah bahawa Rasulullah s.`a.w. juga telah memadam namanya dari nubuwwah dalam perundingannya dengan Suhayl ibn `Amr ketika menuliskan teks perjanjian al-Hudaybiyyah. Dengan penjelasan Ibn `Abbas r.`a. tersebut, sebahagian kaum Khawarij telah kembali kepada `Aliy, sementara sebahagian lagi (sekitar empat ribu orang) tetap berkeras tidak mahu kembali. Merekalah yang kemudiannya diperangi oleh Khalifah `Aliy ibn Abi Talib k.w.

Demikianlah cara yang benar dalam menangani isu golongan bughah, iaitu dengan mendahulukan pendekatan islah, dialog, debat dan tindakan korektif. Hanya setelah usaha islah gagal barulah boleh diambil tindakan ketenteraan (perang) dengan mematuhi aturan-aturan khusus memerangi kaum bughah yang berbeza daripada cara memerangi kaum musyrikin. Justeru, mereka (al-bughah) adalah kaum mukminin, dan mereka juga adalah saudara seiman seperti yang disebut oleh Sayyidina `Aliy k.w. tentang kaum Khawarij, bahawa mereka adalah ikhwanuna baghaw `alayna (saudara-saudara kita yang memberontak terhadap kita). Dr. Wahbah al-Zuhayliy dalam kitabnya al-`Uqubat al-Shar`iyyah wa al-Aqdiyat wa al-Shahadat mengatakan bahawa memerangi kaum bughah harus dengan maksud menginsafkan mereka, bukan membunuh mereka. Kerana itu mereka yang lari tidak boleh dibunuh, yang luka tidak boleh dihabisi, yang tertawan tidak boleh dibunuh, harta mereka tidak boleh diagih sebagai ghanimah, wanita dan anak-anak mereka tidak boleh dijadikan tawanan.


Para Demonstran dalam Sistem Demokrasi

Bagaimana pula kedudukan mereka yang berdemonstrasi membantah atau menyokong sesuatu isu dalam konteks sistem demokrasi? Bughah-kah mereka? Yang pertama harus dicatat ialah hakikat bahawa kebebasan bersuara, kebebasan berhimpun dan hak untuk berbeza (membangkang) adalah bahagian daripada sistem demokrasi moden yang telah disepakati untuk diamalkan di negara ini. Jika rakyat turun ke lapangan membantah kenaikan harga barang keperluan, sebenarnya mereka tidak melakukan sebarang kesalahan, mereka hanya mengamalkan hak demokratik yang sah. Jika yang mereka tuntut hanya penurunan harga barang, bukan penurunan ketua negara, lalu apa kaitannya dengan bughah dan segala implikasinya termasuk penghalalan darah?

Yang jelas para demonstran tersebut tidak memenuhi persyaratan bughah. Mereka tidak bermaksud menjatuhkan pemerintah, mereka tidak memiliki kekuatan (shawkah), mereka tidak mengingkari tanggungjawab menunaikan zakat, membayar cukai dan mematuhi undang-undang; mereka juga tidak mempunyai imam atau pemimpin rasmi yang dipatuhi segala arahannya (muta’un fihim), yang ada hanya badan penganjur yang menyelaras proses demonstrasi selama beberapa jam; dan pemerintah pun tidak pula perlu menghadapi mereka dengan kekuatan ketenteraan bersenjata canggih. Selepas beberapa jam - setelah perasaan disuarakan - mereka bersurai sendiri secara aman, tanpa melakukan sebarang kerosakan yang bererti. Pada dasarnya mereka tetap menjadi rakyat yang normal, patuh dan bertanggungjawab.

Dilihat dari perspektif agama, demonstrasi aman untuk membantah kemungkaran seperti pemborosan dan pembaziran wang rakyat dapat dianggap sebahagian daripada jihad al-kalimah (jihad menyatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim). Dr. Subhiy `Abduh Sa`id dalam bukunya al-Hakim wa Usul al-Hukm fi al-Nizam al-Islamiy menyebut jihad al-kalimah dalam pengertian inkar al-lisan (menolak kemungkaran secara lisan) yang diucapkan di hadapan penguasa yang zalim adalah jenis jihad yang paling utama. Bantahan dalam pengertian inkar al-lisan menurut Dr.Subhiy harus dilakukan dengan kata-kata yang dapat didengar, dibaca atau dilihat (bi kalimatin masmu`atin aw maqru’atin aw mar’iyyah). Menurut beliau lagi inkar al-lisan (memprotes kemungkaran dengan suara lantang) sedemikian itu hukumnya wajib kifa’iy bagi orang awam, dan wajib `ayniy ke atas golongan al-khasah iaitu para mujtahidin dalam kalangan ulama dan pemikir Islam. Mereka tidak boleh membisu terhadap kemungkaran kerana kebisuan mereka akan ditafsirkan oleh masyarakat awam sebagai persetujuan dan penerimaan (terhadap kemungkaran). Demonstrasi yang diniati dan disemangati menolak kemungkaran adalah amar makruf-nahi munkar bi sawtin masmu` (dengan suara yang dapat didengar secara luas). Justeru, ia adalah suatu yang sah secara syara‟ dan undang-undang (shar’an wa qanunan).


TM68 8/2/14

Kolej Dar al Hikmah